Makalah mengenai pemurnian wahabi ini, merupakan suatu karangan ilmiah populer. kerena di dalam makalah ini tidak terdapat cover, daftar isi, kata pengantar. jadi makalah ini tidak terkait oleh kerangka dan aturan pembuatan makalah.
Makalah ini menurut saya bukan untuk memenuhi tugas yang di kerjakan oleh mahasiswa pada umumnya, karena tidak adanya aturan pembuatan makalah yang biasa digunakan.
Pada kesempatan ini saya ingin menganalisis makalah ini dari segi isi, penulisan dan penurutan tampilannya.
1. Isi
dari segi isi pada bagian pendahuluan banyak sekali kata-kata ilmiah yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang, sehingga pembaca kesulitan untuk memahami sebagaian isi dan maksud dari pembahasan makalah ini, sehingga nantinya para pembaca akan kehilangan minat untuk membaca makalah ini. karena kepentingan dibuatnya makalah adalah untuk dibaca oleh banyak orang.
2. Tulisan
dari segi tulisan bahasa yang digunakan banyak sekali kata-kata yang tidak baku, banyak terdapat makna ganda, penggunaan huruf kapital dan tanda baca yang tidak sesuai dengan ketentuan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), banyak kata penghubung yang tidak sesuai Contohnya : ibadat seharusnya ibadah (hal 1)
3. Penuturan Tampilan
Penuturan tampilan pada makalah ini menggunakan penalaran Deduktif dan Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70).
Demikain Analisis yang dapat saya sampaikan mungkin masih banyak kekurangan dalam penuturannya. untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. Terima kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar